Postingan

Menampilkan postingan dari Juli, 2018

WAKTU-WAKTU TIDUR

🔹Apakah yang dimaksud dengan "TIDUR HAILULAH, QAILULAH & 'AILULAH" 1.Tidur HAILULAH : Tidur yg menghalangi rizqi 2.Tidur QOILULAH : Tidur yg di sunnahkan Rosul saw. 3.Tidur 'AILULAH : Tidur menyebabkab dtgnya penyakit *💠 HAILULLAH* adalah :  tidur sehabis melaksanakan sholat subuh, dinamakan demikian karena tidur tersebut dapat menghalangimu dari rejeki yang ALLAH SWT tebar pada waktu pagi hari. *💠 QAILULLAH* adalah :  tidur SEBELUM melakukan sholat dhuhur sekitar 25 - 30 menit sebelum dikumandangkannya adzan dhuhur, tidur jenis ini sangat bemanfaat dan sangat dianjurkan oleh Nabi Saw. Menjelaskan ketika musim panas rasulullah tidur sebelum Dzuhur dan ketika musim dingin beliau Nabi Muhammad tidur setelah dzhuhur *💠 'AILULLAH* adalah :  tidur sehabis melakukan sholat ashar, tidur jenis satu ini dapat menyebabkan berbagai penyakit, diantaranya adalah : sesak napas dan murung dan gelisah. *kalo merasa bermanfaat Sebarkanl...

Wasiat Emas Abu Hanifah

“Wasiat Emas Abu Hanifah”. 🌸 Jika kamu salah dalam berinteraksi dengan masyarakat, mereka akan menjadi musuhmu sekalipun mereka adalah Bapak dan Ibumu..  Tapi jika kamu berinteraksi dengan baik, sekalipun mereka bukan kerabatmu maka akan menjadi Bapak dan Ibumu… 🌸Jika kamu telah masuk Bashrah, orang akan menjemput, mengunjungi, serta mengetahui dengan persis hak-hak kamu..  Maka posisikanlah tiap-tiap individu sesuai dengan kedudukan mereka..  Hormatilah orang-orang yang terhormat, muliakan para ulama, hormatilah orang-orang tua.. Bersahabatlah dengan lemah lembut, dekatilah orang-orang awam, pergaulilah orang-orang baik..  Jangan menghina siapa pun dan jangan membuka rahasia kamu kepada siapa pun.. Jangan mempercayai siapa pun sebelum mengujinya..  Janganlah menerima hadiah… 🌸Sebaiknya kamu mengikuti kemauan masyarakat, sabar, baik budi pekerti, lapang dada..  Berpenampilan baik, perbanyak memakai minyak wangi (bagi laki-lak...

MEMOHON HIDAYAH ALLAH

Dahulu Mihyar ad-Dailami, penganut agama Majusi, lalu masuk Islam. Sayangnya, ia jatuh dalam dekapan kaum Syi’ah Rafidhah. Ia menggubah syair-syair dalam mazhab Rafidhah yang berisi caci maki terhadap para sahabat radhiyallahu ‘anhum. Hingga Abul Qasim bin Burhan mengatakan, “Hai Mihyar, engkau berpindah dari satu sudut neraka kepada sudut neraka lainnya. Engkau dahulu penganut agama Majusi, kemudian engkau masuk Islam dan mencaci maki sahabat Nabi!” (Al-Bidayah wa an-Nihayah XII / 41) Islam yang bersumber dari Al-quran dan As-Sunah adalah jalan kebenaran dan keselamatan hidup. Dan setiap muslim diperintahkan Allah ‘Azza wa Jalla untuk selalu berpegang teguh pada keduanya agar jalan hidupnya terarah menuju hidayah-Nya. Realitanya, hidayah merupakan nikmat-Nya yang terbesar yang diberikan kepada hamba-hamba-Nya yang dikehendaki. Sungguh kita diperintahkan untuk selalu memohon hidayah, ditunjukkan kepada jalan lurus, yakni shirathal mustaqim. Sebagaimana kisah menyedihkan Mihyar ...

Hukum Seputar JABAT TANGAN

Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin Baz ditanya: “Apa hukum (lelaki) berjabat tangan dengan wanita?” Beliau menjawab: “Hukum berjabat tangan dengan wanita ada perinciannya. Apabila wanita tersebut termasuk mahram orang yang berjabat tangan, seperti ibunya, saudarinya, saudari ibunya, saudari bapaknya, dan istrinya (ibu tiri) maka diperbolehkan. Apabila selain mahram maka tidak diperbolehkan karena ada seorang wanita yang mengulurkan tangannya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk menjabat tangannya, maka beliau bersabda, إِنِّيْ لَا أُصَافِحُ النِّسَاءَ “Sesungguhnya saya tidak menjabat tangan wanita”. Aisyah radhiyallahu ‘anha berkata: وَاللهِ مَا مَسَّتْ يَدُهُ يَدَ امْرَأَةٍ قَطّ فِيْ الْمُبَايَنَةِ مَا يُبَايِعُهُنَّ إِلَّا بِقَوْلِهِ “Demi Allah, tangan Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam tidak pernah memegang tangan wanita (yang bukan mahramnya). Sama sekali,  mereka hanya membaiatnya dengan ucapan semata.”  (HR. Al-Bukhari, no. 4...

Istighfar yang paling utama adalah

Istighfar yang paling utama adalah mengucapkan : ‘ Astaghfirullahal’adzim, alladzi la ilaha illa huwal hayyul qoyyumu wa atubu ilaih’ (Aku meminta ampun pada Allah yang Maha Agung, tiada tuhan selain Dia yang Maha Hidup lagi Maha Berdiri Sendiri, dan aku bertaubat pada-Mu). Lalu nabi saw telah menjelaskan bahwa siapa yang membacanya, "maka akan diampuni dosanya meski dosa itu berupa lari dari medan perang.” (HR. Turmudzi, dengan sanad baik, dan disepakati oleh adz-Dzahabi).